1. Judul: Bilik-bilik Pesantren, Sebuah Potret Perjalanan
Penulis: Nurcholish Madjid
Penerbit: Dian Rakyat dan Paramadina
Terbit: 2010
Tebal: xxx + 162 halaman
Harga: Rp. 45.000
Pesantren sebagai salah satu pilar pendidikan modern Islam, tengah menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ia harus dapat menjawab berbagai persoalan bangsa di tengah kemajuan di berbagai bidang yang tidak mungkin dihindari.
Itu sebabnya pesantaren, yang selama ini memiliki stigma sebagai lembaga pendidikan yang konservatif dan cenderung anti-modern, harus segera melakukan perbaikan. Hal tersebut bertujuan agar langkah pesantren dapat sederap dengan kemajuan, dengan tetap menjadi benteng nilai relijius. Buku yang ditulis oleh Nurcholish Madjid ini ingin mengungkapkan masalah-masalah pokok dunia pesantren di Indonesia. Masalah-masalah itulah yang menurut Nurcholish menjadikan pesantren sulit untuk menemukan solusi masalah-masalah bangsa.
Salah satu masalah pokok yang diungkapkan Nurcholish adalah lemahnya visi dan tujuan pendirian pesanteran. Menurutnya, banyak pesantren yang gagal merumuskan tujuan dan visinya secara jelas. Ini ditambah dengan kegagalan dalam menuangkan visi tersebut pada tahapan rencana kerja ataupun program.
Akibatnya, sebuah pesantren hanya berkembang sesuai dengan kepribadian pendirinya, dengan dibantu oleh kiai maupuin pembantu-pembantulainnya. Tidak mengherankan jika semangat pesantren adalah semangat pendirinya.
Bagi Nurcholish, keterbatasan fisik dan mental pendiri pensantren itu dapat membuat pesantren menjadi kurang responsif terhadap perkembangan-perkembangan yang terjadi dalam masyarakat.
Apabila hal ini tidak selesaikan, maka, pesantren akan dianggap tidak mampu lagi menghadapai tantangan-tantangan yang dibawa oleh kemajuan jaman dan modernisasi. Kekurangan inilah yang membuat terjadinya kesenjangan antara pesantren dengan "dunia luar".
Oleh sebab itu perubahan harus dilakukan, dalam arti mengejar ketinggalan yang telah. Namun demikian, Nurcholish mengingatkan sejumlah hal mengenai hal ini, misalnya perubahan tersebut harus dimulai dari "orang dalam" pesantren itu sendiri.
Kedua, perubahan sering tidak dapat dilakukan secara radikal. Akibtanya, perubahan dilakukan secara perlahan. Ini dapat dimulai dari perubahan kurikulum di pesantren, yang tidak hanya mengemban fungsi relijius tetapi juga keilmuan.
Inilah yang diistilahkan oleh Nurcholish sebagai amanat ganda pesantren, yakni amanat agama serta amanat keilmuan. Keduanya harus dilakukan secara serentak dan proporsional sehingga tercapai keseimbangan yang diharapkan.
Untuk itulah buku ini, seperti yang ditulis oleh Prof Malik Fajar dalam buku ini, menawarkan sebuah sintesa antara perguruan tinggi dan pesantren (hal. 121). Sintesa keduanya diharapkan dapat menjawab kebutuhan dua jenis pendidikan tersebut, yakni perguruan tinggi yang rasional namun miskin kedalaman spiritual, dan pesantren yang kuat dengan tradisi keagamaan, namun tertatih-tatih di bidang keilmuan.
Dengan membaca buku ini, pembaca dapat diajak untuk kembali memikirkan dan membenahi pesantren. Dengan upaya ini pesantren tidak lagi dianggap sebagi pilar pendidikan yang "nomor dua", tetapi justru menjadi ujung tombak pemberdayaan masyarakat.
Dengan begitu pesantren dapat diharapkan untuk memberikan solusi atas masalah-masalah yang seakan tidak berhenti menghujani bangsa Indonesia.***
Penulis: Nurcholish Madjid
Penerbit: Dian Rakyat dan Paramadina
Terbit: 2010
Tebal: xxx + 162 halaman
Harga: Rp. 45.000
Pesantren sebagai salah satu pilar pendidikan modern Islam, tengah menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ia harus dapat menjawab berbagai persoalan bangsa di tengah kemajuan di berbagai bidang yang tidak mungkin dihindari.
Itu sebabnya pesantaren, yang selama ini memiliki stigma sebagai lembaga pendidikan yang konservatif dan cenderung anti-modern, harus segera melakukan perbaikan. Hal tersebut bertujuan agar langkah pesantren dapat sederap dengan kemajuan, dengan tetap menjadi benteng nilai relijius. Buku yang ditulis oleh Nurcholish Madjid ini ingin mengungkapkan masalah-masalah pokok dunia pesantren di Indonesia. Masalah-masalah itulah yang menurut Nurcholish menjadikan pesantren sulit untuk menemukan solusi masalah-masalah bangsa.
Salah satu masalah pokok yang diungkapkan Nurcholish adalah lemahnya visi dan tujuan pendirian pesanteran. Menurutnya, banyak pesantren yang gagal merumuskan tujuan dan visinya secara jelas. Ini ditambah dengan kegagalan dalam menuangkan visi tersebut pada tahapan rencana kerja ataupun program.
Akibatnya, sebuah pesantren hanya berkembang sesuai dengan kepribadian pendirinya, dengan dibantu oleh kiai maupuin pembantu-pembantulainnya. Tidak mengherankan jika semangat pesantren adalah semangat pendirinya.
Bagi Nurcholish, keterbatasan fisik dan mental pendiri pensantren itu dapat membuat pesantren menjadi kurang responsif terhadap perkembangan-perkembangan yang terjadi dalam masyarakat.
Apabila hal ini tidak selesaikan, maka, pesantren akan dianggap tidak mampu lagi menghadapai tantangan-tantangan yang dibawa oleh kemajuan jaman dan modernisasi. Kekurangan inilah yang membuat terjadinya kesenjangan antara pesantren dengan "dunia luar".
Oleh sebab itu perubahan harus dilakukan, dalam arti mengejar ketinggalan yang telah. Namun demikian, Nurcholish mengingatkan sejumlah hal mengenai hal ini, misalnya perubahan tersebut harus dimulai dari "orang dalam" pesantren itu sendiri.
Kedua, perubahan sering tidak dapat dilakukan secara radikal. Akibtanya, perubahan dilakukan secara perlahan. Ini dapat dimulai dari perubahan kurikulum di pesantren, yang tidak hanya mengemban fungsi relijius tetapi juga keilmuan.
Inilah yang diistilahkan oleh Nurcholish sebagai amanat ganda pesantren, yakni amanat agama serta amanat keilmuan. Keduanya harus dilakukan secara serentak dan proporsional sehingga tercapai keseimbangan yang diharapkan.
Untuk itulah buku ini, seperti yang ditulis oleh Prof Malik Fajar dalam buku ini, menawarkan sebuah sintesa antara perguruan tinggi dan pesantren (hal. 121). Sintesa keduanya diharapkan dapat menjawab kebutuhan dua jenis pendidikan tersebut, yakni perguruan tinggi yang rasional namun miskin kedalaman spiritual, dan pesantren yang kuat dengan tradisi keagamaan, namun tertatih-tatih di bidang keilmuan.
Dengan membaca buku ini, pembaca dapat diajak untuk kembali memikirkan dan membenahi pesantren. Dengan upaya ini pesantren tidak lagi dianggap sebagi pilar pendidikan yang "nomor dua", tetapi justru menjadi ujung tombak pemberdayaan masyarakat.
Dengan begitu pesantren dapat diharapkan untuk memberikan solusi atas masalah-masalah yang seakan tidak berhenti menghujani bangsa Indonesia.***
2. Judul buku: Go Ask Alice
Penulis: Anonim
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 187 halaman
Belum ada angka yang pasti, berapa jumlah nyata remaja korban obat-obatan terlarang ini di Indonesia. Fenomena gunung esnya itu emang bisa bikin kita terkejut, kalau data dari Yayasan Cinta Anak bangsa yang menyatakan, kota Yogya sebagai kota terbesar yang remajanya sebagai pecandu. Nyatanya Kota
Pelajar itu membuat kita berhenti tertawa dengan ungkapan tadi di atas.
Buat apa sih, kita bersusah payah baca diary seseorang yang tidak kita kenal. Untuk apa juga penerbit, mau maunya nyetak buku yang isinya cuman catatan harian doang? Emangnya dia itu Anne Frank, anak Yahudi yang punya diary yang jadi sumber sejarah? Who is Alice, anyway?
Well, Alice could be anyone, could be somebody (as) you know. Buku ini jadi sangat menariknya karena Alice itu bukanlah siapa-siapa. Nyantumin diri sebagai anonim, bikin buku ini jadi buku superstar menjelang masuknya milenium baru kemaren.
Buku yang kita bahas ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Gramedia Pustaka Utama, dari buku aslinya, Go Ask Alice. Lalu ditambahin embel-embel taglines : “Buku Harian Seorang Remaja Pecandu Narkoba” plus anak kalimat ‘sebuah kisah nyata’ yang terkesan bombastik.
Oke, lah, saatnya kita berkenalan dengan penulis buku harian ini. Siapapun namanya, dia adalah remaja, yang genap berusia 15 tahun pada tanggal 20 September. Punya orang tua yang sejahtera, yang sangat mengasihinya, punya rumah yang bagus, hampir tak ada celah untuk bilang: dia tidak bahagia.
Itu di bagian luarnya saja. Selintas, temannya banyak, kadang masih bisa berkumpul dengan teman di sebuah pesta sekolah, nyaris seperti layaknya remaja kebanyakan lah! Tapi, sebenarnya dia sangat tertekan, penyendiri, sulit untuk mengendalikan diri, hingga ke soal kecil asmaranya dengan Roger yang akhirnya menyebabkan dia terjangkit penyakit self-destructive romance.
Pokoknya, yang terjadi di dalam lebih kompleks ketimbang gayanya yang terkesan remaja yang anteng.
Dari bahasanya, buku ini ditulis oleh remaja yang aslinya periang. Lalu, ngerambat ke dalam isinya, lembar demi lembar, bisa bikin merinding. Ketika dia depresi berat, dirawat karena pengaruh lysergic acid diethylamide (LSD) di rumahsakit ketergantungan obat, dia menulisnya tanpa tanggal yang tak tertera. “…Aku masih suka dihantui cacing-cacing, tapi aku sedang mencoba mengendalikan diri….. Kadang-kadang mereka begitu nyata, bahkan aku merasakan kehangatan dan licin tubuh mereka yang lembek dan gendut….dan setiap kali hidung atau salah satu bekas lukaku terasa gatal, aku mesti berusaha keras menahan diri supaya tidak menjerit-jerit minta pertolongan…” (hal 149)
Kehancuran fisik akibat pengaruh obat-obatan bukan hanya merontokkan rambutnya. Rautnya yang dulu ceria menjadi sembam, kerontokan gigi, dan silakan baca sendiri sejumlah akibat lainnya, pasti merinding! Asliii!!
Buku ini jadi lebih menarik lagi karena isinya hanyalah sebuah diari. Emosi si penulisnya masuk ke dalam tuturan bahasanya. Kebimbangan saat baru saja menolak tawaran teman dengan, “Ah, tidak terima kasih,” itu dilanjutkan dengan rasa penasaran khas remaja banget, dan sejumlah dilema seputar pergaulan dan lingkungan. Tanpa maksud menggurui, buku yang tidak mencantumkan nama asli, tahun kejadian, dan tempat yang spesifik diganti, atau disamarkan itu, membuat kita dekat dengan jalan ceritanya. Jujur, apa adanya, dan kena!
Saat dia bertahan, dan jatuh lagi ke jurang yang sama, dan jatuh lagi, diari inilah yang jadi peri pelindungnya. Buku setebal 187 halaman ini mencatat bagaimana dia bertahan, dan tetap bisa berdialog dengan dirinya
sendiri, agar tetap punya semangat untuk hidup. Dia meninggal dunia, setelah tiga minggu berhenti menulis diari bertanggal 21 September.


